Dear ayah, maaf jika aku terlalu kaku untuk memulai obrolan dengan ayah. Walaupun diujung telfon sekalipun, lidahku rasanya kelu untuk sekedar bertanya kabar ayah. Entah mungkin karena kedekatan kita yang tak begitu erat karena aku lebih dekat kepada ibu, atau entah karena sosokmu yang kaku yang membuatku terkadang segan. Maaf jika aku terkesan menelfon ayah hanya ketika kehabisan uang jajan atau ketika ada keperluan kampus yang membutuhkan pengeluaran banyak dan membeli buku yang harganya selangit.
Sebenarnya ayah, aku ingin sekali menelfonmu setiap hari. Menanyakan kabarmu, sekedar menanyakan apakah ayah sudah makan apa belum, menanyakan ayah makan apa, karena aku tau ayah, aku tau ayah tidak terbiasa makan masakan selain masakan ibu. Bahkan untuk sekedar secangkir teh saja ayah bisa tau jika itu bukan buatan ibu. Aku harus mencari-cari waktu yang tepat supaya bisa ngobrol banyak dengan ayah ditelfon, aku harus mempersiapkan apa saja yang akan aku katakan ketika aku ingin menelfon ayah, bahkan aku harus berulangkali secepatnya menekan tombol end ketika sehabis menekan tombol call karena aku grogi,haha lucu sekali grogi menelfon ayah kandung sendiri.Tapi memang itu yang aku rasakan, Karena seringkali ketika selesai menanyakan sudah makan apa belum,kita sama-sama saling terdiam diujung telfon masing-masing. Kita memang punya beberapa kesamaan ayah, tidak terlalu pandai memulai percakapan, kaku dan seringkali lebih memilih menyimpan semua didalam hati.
Ayah.. Aku juga sebenarnya ingin sekali ayah menelfonku setiap hari, sesering mungkin seperti yang dulu ibu lakukan ketika ibu masih ada. Aku rindu, aku rindu ketika ibu menelfonku hanya sekedar menanyakan aku makan apa dan kemudian kami mulai bercerita ngalur ngidul tentang apapun kemudian saling tertawa bersama. Tapi aku tau ayah, ayah tidak mungkin menjadi seperti ibu. Aku tau ayah sama susahnya untuk memulai percakapan ditelfon denganku.
Aku di sini sendiri ayah, jauh sekali, tidak punya siapa-siapa. Seringkali aku kesepian dan hanya bisa menangis memeluk guling hingga tertidur esok pagi kemudian bangun dan bergegas menjalani aktifitas kuliah, dan jika ada waktu kosong aku berusaha mengisinya dengan aktifitas lain, namun ketika senja mulai turun dan dingin mulai menyelimuti malam, kesepian itu datang lagi ayah, menawarkan rindu yang kemudian menyublim jadi tangis. Apakah ayah juga kesepian dirumah? Ayah baik-baik saja kan? Bersyukur kita memiliki dek fachri yang membuat suasana rumah menjadi sedikit lebih ramai, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika ndak ada dek fachri mungkin rumah kita akan sunyi senyap seperti kuburan yang kedengaran hanya suara cicak yang sedang menertawakan keadaan kita. Mungkin ini alasan kenapa dulu ibu berusaha mati-matian mempertahankan dek fachri ketika masih di dalam kandungan walaupun berulangkali ibu perdarahan. Ah..ibu memang selalu berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang, bahkan sebelum pergi pun ibu telah mempersiapkan begitu banyak kain panjang dan juga handuk. Aku seringkali menertawakan yang ibu lakukan, toh untuk apa mempersiapkan sesuatu yang menurutku tidak begitu penting. "Nanti kalau ada perlu mendadak kita ndak perlu repot-repot cari kesana kemari" begitu kata ibu. Astagfirullah ternyata pada akhirnya kain panjang yang banyak itu yang digunakan untuk menutupi jasad ibu, handuk itu yang digunakan untuk memandikan beliau terakhir kali. Saat ibu pergi memang suasana idul fitri masih menyelimuti dan rata-rata toko memang belum buka, entah harus mencari kemana andai saat itu ibu tidak mempersiapkan kainnya sendiri. Bahkan ketika kepergiannya, beliau tidak terlalu merepotkan orang lain. Aku rindu ibu.
Ayah, aku tau ayah sudah berusaha maksimal mengisi posisi ibu juga sekaligus posisi ayah. Aku mengerti menjadi single parent bukan perkara mudah semudah membalik telapak tangan, ditambah selama ini hampir semua urusan dihandle oleh ibu. Aku tau berat beban di pundakmu yah. Tapi ayah terlalu pintar menutupinya, entah terlalu pintar atau memang begitu adanya ayah. Tidak banyak bicara, tapi aku tau banyak yang ayah pikirkan.
Dear ayah..
Ayah merupakan ayah terhebat yang aku punya. Aku bangga punya ayah seperti mu. Bagaimana tidak, ayah yang tidak tamat SMA mampu membiayai kuliahku. Mampu membuat aku merasakan bagaimana rasanya duduk dibangku kuliah kedokteran dengan anak pejabat yang notabene nya adalah orang-orang kaya. Ya, Fakultas kedokteran, pendidikan yang kini tengah aku jalani. Aku minta maaf karena biaya kuliah ku mahal sekali. Kadang aku merasa terlalu memberatkan ayah.
Ayah memang beda dengan ayah-ayah yang lain. Ayah tidak pernah menunjukkan sayangnya seperti ayah-ayah lain. Ayahku kaku dan cenderung pendiam. Tapi, aku tau ayah sayang sekali denganku. Pernah ketika aku selesai liburan dan akan kembali pulang ke jogja ketika ibu udah gak ada, ketika packing barang ayah tiba-tiba bilang "di jogja ada yang jual rendang kan? nanti kalo pio pengen makan rendang beli aja di jogja" kemudian setelah ayah berlalu, aku lari ke kamar dan menangis. Bagaimana mungkin ternyata ayah yang pendiam ternyata memikirkan hal kecil seperti itu. Ya, setiap aku pulang kejogja dari pertama kali kuliah, ibu memang tak pernah absen memasakkan rendang untuk ku bawa pulang. Di jogja memang banyak yang jual rendang, tapi rendang ibu ya cuma satu-satunya, ga ada yang menandingi. Sampai sekarang aku ndak pernah merasakan makan rendang walaupun banyak yang jual disini.
Yah, ayah yang sehat ya.
Aku selalu berdoa untuk kesehatan ayah dan supaya ayah diberikan umur yang panjang oleh yang maha kuasa. Aku ingin sekali ayah bisa hadir di wisuda sarjana kedokteranku nanti, setahun lagi insyaallah. Jaga kesehatan ya yah, nanti sewaktu pengambilan sumpah jabatan dokterku, aku masih mau lihat ayah. Aku ingin ayah yang pertama kali melihatku mengenakan "white coat" ku nanti. Aku ingin sekali ayah masih bisa lihat tempat praktekku nanti. Semoga, Amin.
Ayah yang kuat ya, aku tau ayah rapuh, begitu banyak masalah menimpa keluarga kecil kita. Walaupun ibu sudah ga ada, layaknya seseorang yang kehilangan satu kaki, limbung,mungkin terjatuh dan tidak sanggup berdiri, tapi seiring berjalan waktu pasti kita bisa berjalan bersama-sama ayah. Aku yakin kita bisa melewati semua ini ayah.
Aku sayang ayah. Walaupun lidahku terlalu kaku untuk dapat mengatakannya langsung di hadapan ayah. Aku ingin semua orang tau bahwa aku sangaaaaaaaaaaaaaaatttt menyayangi ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar